Langsung ke konten utama

ANALISA WACANA





- PERTARUNGAN IDEOLOGI “ NDESO “ DALAM MEDIA SOSIAL -   


BAB I
PENDAHULUAN

I.1.       LATAR BELAKANG

Pengertian dasar dari ideologi adalah sebuah sistem ide, keyakinan, nilai, sikap
dan kategori dengan referensi dari apa yang dipahami, dirasakan, dan ditafsirkan oleh  seseorang, kelompok atau masyarakat tentang dunia. Ideologi adalah representasi dari siapa kita, apa yang kita perjuangkan, nilai - nilai hidup kita serta hubungan dengan orang lain.  Ideologi dalam tindakan aktif  representasi diri pribadi dalam kelompok sosial, sebagai cerminan dasar dari kehidupan sosial, ekonomi, politik atau budaya kepentingan (Van Dijk, 1998).  Ideologi berfungsi untuk melegitimasi atau melawan
kekuasaan atau dominasi, atau mereka mungkin mewakili masalah sosial dan kontradiksi, terkait dengan kelas sosial dan kelompok sosial lainnya serta lembaga-lembaga, organisasi dan bentuk lain dari struktur sosial.
Konsep ideologi biasanya direproduksi melalui bahasa dan bagaimana penggunaan bahasa untuk penyembunyian atau manipulasi maksud dalam praktek-praktek sosial yang sebagian besar bersifat diskursif.  Tentu saja, ini tidak berarti bahwa ideologi diekspresikan hanya dengan bahasa, tetapi tampak jelas bahwa bahasa gunakan antara praktek-praktek sosial lainnya, memainkan peran penting dalam reproduksi sebuah ideologi (Van Dijk, 1998: 5).  Ideologi dalam prakteknya termanifestasi dalam sebuah struktur sosial masyarakat yang dibangun, divalidasi, naturalisasi, dievaluasi dan dilegitimasi dalam melalui bahasa, akan membentuk sebuah pemikiran / wacana. Ini berarti wacana dibutuhkan dan digunakan oleh berbagai kelompok sosial dalam konteks akuisisi, argumentasi, konflik ideologis dan persuasi serta orang-orang dengan sebuah  ideologi tertentu menyampaikan kepada anggota kelompok lain untuk mencari pembelaan / dukungan terhadap kelompok lain yang menyinggung ideologi yang dimiliki (Van Dijk, 1998: 6). Ideologi dapat didefinisikan secara sederhana sebagai dasar representasi sosial bersama oleh anggota kelompok sosial (Van Dijk, 1998: 8), berupa wacana komunikasi dalam wadah media. Wacana dalam produksi media, salah satunya adalah Iklan. 
Iklan merupakan produksi wacana yang mengandung 'konteks' dari ‘istilah’ dan 'teks', memainkan peranan penting dalam reproduksi dan difusi ideologi yang dapat menimbulkan konflik . Konflik biasanya terjadi dalam masyarakat kontemporer antara modernisme dan tradisionalisme serta  budaya dalam kerangka struktural dan sejarah.  Kondisi psikologis masyarakat yang sudah mapan, mampu mendefinisikan iklan bukan saja dalam fungsi jual yaitu mengajak orang membeli produk, namun fungsi struktur kerangka pemikiran berdasarkan ideologi yang terbangun. Iklan dapat menghadirkan dua presepsi / dua tingkatan pertandaan yaitu  denotasi  dan konotasi makna (Roland Barthes, 1915-1980).  Informasi yang disampaikan melalui bahasa  ‘ucapan’, ‘istilah’ berbenturan dengan kepentingan masyarakat mengenai nilai yaitu ideologi yang telah berakar, sehingga maksud dari pengiklan tidak dapat tercapai, dan feedback negatif / positif dapat timbul di media sebagai reaksi individu / kelompok.
Dalam posisi sebagai wadah, media menjadi kekuatan besar yang memberikan kemudahan bagi individu / kelompok masyarakat untuk bertarung memperjuangkan ideologi yang telah terbangun. Perkembangan pesat media dalam era konvergensi memungkinkan  individu / kelompok masyarakat dapat dengan mudah menjangkau dan mempengaruhi individu / kelompok masyarakat lain untuk mendukung ideologi yang diperjuangkan, dan menggeser produksi wacana dengan konteks yang eksplisit, yang dianggap berbenturan.  


I.2.       POKOK PERMASALAHAN

Iklan pada tampilannya seringkali menggunkan tampilan bahasa (kata, istilah, teks, kalimat) berupa sindiran  kondisi sosial, budaya, politik, maupun hiburan humor. Dalam memahami iklan, invidu / kelompok dapat mempresentasikan makna secara denotasi maupun konotasi.  Kecenderungan ini merupakan strategi industri untuk menarik perhatian masyarakat akan produk / layanan yang dihasilkan. Ketertarikan masyarakat ini memberikan feedback kepada industri, bukan saja  dalam tindakan ekonomis dengan membeli produk / layanan, namun juga dalam kritik sosial mengenai produksi iklan itu sendiri. Fenomena iklan XL dengan istilah ‘NDESO’ dengan bintang TUKUL ARWANA dituntut oleh kelompok masyarakat tertentu agar diberhentikan penayangannya karena di anggap melecehkan kelompok sosial tertentu. Konotasi makna dari istilah ‘NDESO’ yang digunakan dalam iklan dianggap berbenturan dengan ideologi realita dari istilah ‘NDESO’. Tuntutan kelompok tertentu ini dilakukan melalui media sosial konvergen antara lain Facebook Page  “Hentikan Pelecehan Desa oleh XL dan Tukul”.


1.3       TUJUAN PENILITIAN
Penilitian dalam konteks di atas, menunjukkan bagaimana suatu produksi wacana yaitu iklan membangun sebuah makna dari konteks bahasa ‘istilah’ yang secara konotasi berbenturan dengan ideologi individu / kelompok.  Berikutnya, bagaimana representasi  pertarungan ideologi kelompok berhubungan dengan makna konteks bahasa ‘istilah’ dalam produksi wacana iklan.  

BAB II
KERANGKA PEMIKIRAN


II.1.      STRUKTURAL

Althusser dengan teori Marxisme structural mengemukakan bahwa ideologi dibentuk melalui pengalaman, hubungan sosial dan status dalam masyarakat. Kata “struktural” dalam teori ini berasal dari sini karena pengkondisian melalui suatu struktur adalah faktor yang menetukan ideologi seseorang. Terjemahannya seperti sebuah “corak produksi” ini bersifat abstrak dan tersimpan dalam benak. Hal itulah yang sebenarnya menyetir setiap tindakan individu baik politis, sosial maupun ekonomis. Tiap hal tertentu yang menjadi pengalaman manusia akan menghasilkan dampak tertentu juga dalam bentuk tindakan,  mempertahankan, mempengaruhi secara hegemoni, berpaling. Perjuangan mempertahankan ideologi alami yang dipahami sebagai realitas, merupakan karakteristik sebuah wacana. Individu / kelompok masyarakat memahami produk dari suatu industri terkadang hanya untuk mencari nilai ekonomis keuntungan dengan mengorbankan pemahaman ideologi yang sesungguhnya.
Pemahaman Neo Marxis dari Antonio Gramsci Neo Marxis, ideologi tidak selalu ditentukan oleh ekonomi, atau modal produksi masyarakat yang bersangkutan, tetapi bersifat otonom dan krusial (Woodfin & Zarate 2008: 120). Ideologi alami yang dipertahankan dalam masyarakat tertuang dalam teori Gramschi sebagai ideologi Hegemoni. Karakteristik Hegemoni (egemonia), menurut Rupert Woodfin & Oscar Zarate (2008: 122),  sebagai berikut :
  • Kesepakatan dari mayoritas masyarakat terhadap ‘gambaran hidup’ yang disuguhkan oleh mereka yang berkuasa;
  • Nilai-nilai, baik nilai moral maupun nilai politik, yang termasuk dalam kesepakatan itu, secara meluas akan menjadi milik mereka yang berkuasa;
  • Ideologi dilihat sebagai ’sesuatu yang masuk akal’ (common sense) oleh mayoritas rakyat, yang menjadi sesuatu yang ‘alami’ untuk berfikir semacam itu;
  • Persetujuan berada dalam suasana yang penuh damai, tetapi kekuatan fisik dapat digunakan untuk melawan sekelompok minoritas yang membangkang, selama persetujuan mayoritas ada.
Tulisan Woodfin & Zarate lebih lanjut (2008: 123): “Hegemoni bisa berubah setiap saat, ketika ia disesuaikan dengan kondisi yang sedang berubah. Hegemoni merupakan produk dari negosiasi antara kelas yang dominan dan kelas yang dikuasai mengenai apa yang harus diyakini dan tidak, oleh kelas yang dikuasai”.  
Hegemoni merupakan premis dasar dari teori identitas sosial mengenai kebutuhan manusia akan positif harga diri. Teori identitas sosial pada awalnya dikembangkan di pertengahan hingga akhir 1970-an oleh Tajfel dan Turner dan rekan-rekan mereka, di University of Bristol (Tajfel, 1978; Tajfel dan Turner, 1979; Turner dan Giles, 1981). Namun, implikasi yang lebih luasteori segera diakui, dan dengan cepat memperoleh tanah dan dukungan. Hal ini telah memastikan profil tinggi dan popularitas di sosial kontemporer psikologi (Abrams dan Hogg, 1990; Hogg, 1992; Hogg dan Abrams, 1988).
Teori identitas sosial dibingkai dengan asumsi bahwa masyarakat hirarki
terstruktur ke dalam kelompok sosial yang berbeda yang berdiri dalam hubungan kekuasaan dan status satu sama lain. Presentasi dari diri kita adalah identitas sosial, yaitu definisi yang satu dan deskripsi dan evaluasi apa yang dibutuhkan. Ini berarti bahwa identitas sosial tidak hanya menggambarkan anggota tetapi juga meresepkan perilaku yang sesuai untuk kelompok.  Perkembangan terbaru dalam teori identitas sosial adalah kategorisasi diri Teori (Turner et al., 1987). Ini adalah kedua perpanjangan, dan pengembangan dalam lingkup yang lebih luas, teori identitas sosial. Self-kategorisasi teori menyatakan bahwa mengkategorikan orang satu sama lain untuk cocok komparatif dan normatif dari kategori dalam konteks. Dalam konteks antarkelompok, orang membangun dari berbagai ingroup dan outgroup
orang yang hadir kontekstual representasi yang tepat dari mendefinisikan
fitur masing-masing kelompok. Prototipe ini, atau skema cenderung meminimalkan intragroup perbedaan dan membesar-besarkan perbedaan antar kelompok. Ketika orang mengkategorikan orang lain sebagai anggota ingroup mereka menonjolkan kesamaan mereka yang relevan prototipe, atau skema, dan berperilaku sesuai dengan prototipe, atau skema. Jadi, diri kategorisasi ingroup menghasilkan perilaku normatif dan self-stereotip, dan karenanya kelompok proses perilaku yang mendasari (Oakes et al., 1993). Dalam pengertian ini, stereotip tentang ingroups cenderung positif dan stereotip tentang luar kelompok cenderung negatif. Stereotip, secara umum, perlu memfasilitasimembenarkan atau merasionalisasi sikap negatif yang ada terhadap kelompok sosial, kondisi sosial di mana satu kelompok diperlakukan lebih baik sistematis dari lain. Sebagai hasil dari proses-proses stereotip cenderung dimasukkan ke dalam ideologi kelompok sosial, dan tercermin dalam konteks bahasa (Stangor
dan Lange, 1993).  Konteks bahasa dinyatakan dalam Teori identitas sosial menunjukkan proses dua langkah yang mencakup kognitif dan faktor motivasi untuk penjelasan konsep "bias". Pertama, individu kognitif harus mengklasifikasikan dunia sosial ke dalam dua kategori sosial yang berbeda yang memisahkan diri dari orang lain, yaitu sebagai kami dan mereka. Dalam hal ini orang kategorisasi mendefinisikan dunia dengan menggunakan dirinya sebagai kerangka acuan menyebabkan orang untuk mendefinisikan diri mereka dalam hubungannya dengan orang lain. Dalam hal ini cara, mereka memperoleh rasa identitas dengan membedakan diri dari orang lain (Teo, 2000: 41).  Kedua, keinginan untuk presentasi harga diri secara positif, berasal sebagian dari kategori sosial milik  individu
. Teori identitas sosial bekerja dalam manusia dapat dilihat dari kecenderungan untuk mengelompokkan orang ke dalam kelompok dan kemudian menawarkan penjelasan untuk pengembangan dan retensi bias di dalam kelompok. Jadi, teori identitas sosial mencoba membuat penjelasan yang masuk akal berdasarkan kecenderungan manusia untuk latar dengan stereotip negatif atribut dan karakteristik kelompok lain (Anastasio et al, 1997:. 237). Premis dasar dari teori identitas sosial, maka, tampaknya bahwa anggota dalam kelompok akan mendukung kelompok mereka sendiri melebihi kelompok lain, karena kebutuhan harga diri yang positif. Dengan kata lain, orang umumnya cenderung untuk menahan menguntungkan ide tentang kelompok darimana mereka berasal. Ini akan memotivasi mereka untuk menggambarkan karakteristik kelompok positif dan menekankan sifat-sifat positif sebagai ciri khas untuk kelompok mereka sendiri. Sikap-sikap ini diasumsikan akan ditentukan oleh ideologi, karena sikap yang dianggap mewakili masalah atau konflik sosial.  Oleh karena itu, mereka mungkin menunjukkan beberapa fitur struktural yang dapat diamati dalam ideologi. Hal ini tampaknya wajar karena ideologi pada umumnya mewakili masalah dan konflik antara kelompok-kelompok sosial. Akibatnya, kelompok sosial yang terlibat sebagai wakil dalam suatu konflik. Polarisasi kelompok sosial berasal dari kecenderungan orang untuk menyimpulkan dari posisi awal kelompok awal tiang sosio-budaya yaitu dimensi sikap, dan kemudian publik untuk mendukung tiang yang lebih kuat untuk memperoleh persetujuan sosial yang lebih besar. Dalam istilah ideologis, skema polarisasi didefinisikan oleh oposisi antara kelompok menunjukkan bahwa kelompok-kelompok sosial membangun sebuah citra diri ideologis dan lain-lain sedemikian rupa sehingga umumnya kita disajikan positif sedangkan kelompok lain direpresentasikan negatif (Van Dijk, 1998: 68).
Jadi presentasi dari ideologi adalah nilai dasar yang terkandung dalam nilai umum sosial budaya, ini adalah nilai alamiah dari sebuah kontekstual produksi wacana  seperti iklan yang tekandung dalam struktur bahasa, teks, istilah, kalimat.  Sangat penting dalam mengungkap strategi kontekstual berbasis presentasi ideologi diri positif dan negatif lainnya . Presentasi didasari pada struktur teks dalam produksi – produksi wacana, seperti salah satunya iklan. Pengungkapan makna baik konotasi maupun denotasi dari sebuah struktur teks produksi wacana merupakan situs perjuangan hegemonik .
II.2.      Teks
Analisa mengacu pada penggunaan istilah kata sebagai salah satu komponen dari struktur sebuah wacana. Dalam pemikiran Van Dijk, analisa sebuah wacana dimulai dengan melihat pada kohesi yang merupakan tautan atau hubungan antar bagian / komponen / struktur  dalam wacana sebgai satu kesatuan (van Dijk. 2003).  Komponen dalam wacana berupa kata atau kalimat akan efketif saat ditautkan dengan komponen lainnya. Pertautan struktur / komponen dalam  sebuah wacana menghasilkan  Pemakanaan yang beragam tentang suatu maksud tertentu. Analisa Wacana menjadi Analisa Wacana Kritis saat Pemaknaan dapat mengindikasikan ideologi -  ideologi tertentu. Media sosial memainkan peranan sebagai wadah yang mengakomodir penyampaian ideologi – ideologi  dalam sebuah wacana. Hal ini persis seperti pemikiran Fairclough yang berpendapat bahwa analisis wacana kritis adalah bagaimana bahasa menyebabkan kelompok sosial yang ada bertarung dan mengajukan ideologinya masing-masing.  Ia menghubungkan teks yang mikro dengan konteks masyarakat yang makro. Wacana bukan sebagai serangkaian kata atau preposisi dalam teks tetapi produksi sebuah gagasan, konsep efek.   Sebuah kata istilah “ Ndeso “ dikohesikan dengan komponen lain dalam sebuah iklan produk layanan telkomunikasi penggunaan internet menjadi sebuah fenomena yang dimaknai dengan beragam dalam kalangan publik. Ideologi dipertarungkan dalam media sosial seperti Facebook Page yang memperlihatkan karakteristik kritikal dari sebuah wacana.  Melalui  analisa kritis,  akan mengupas sebuah wacana melalui karakteristik :


1.    Tindakan.
Wacana dapat dipahami sebagai tindakan (actions) yaitu mengasosiasikan wacana sebagai bentuk interaksi. Sesorang berbicara, menulis, menggunakan bahasa untuk berinteraksi dan berhubungan dengan orang lain. Wacana dalam prinsip ini, dipandang sebagai sesuatu yang betujuan apakah untuk mendebat, mempengaruhi, membujuk, menyangga, bereaksi dan sebagainya. Selain itu wacana dipahami sebagai sesuatu yang di ekspresikan secara sadar, terkontrol bukan sesuatu di luar kendali atau diekspresikan secara sadar.

2.    Konteks.
Analisis wacana kritis mempertimbangkan konteks dari wacana seperti latar, situasi, peristiwa dan kondisi. Wacana dipandang diproduksi dan di mengerti dan di analisis dalam konteks tertentu. Analisis wacana memeriksa konteks dari komunikasi: siapa yang mengkomunikasikan dengan siapa dan mengapa; kahalayaknya, situasi apa, melalui medium apa, bagaimana, perbedaan tipe dan perkembangan komunikasi dan hubungan masing-masing pihak. Tiga hal sentaralnya adalah teks (semua bentuk bahasa, bukan hanya kata-kata yang tercetak dilembar kertas, tetapi semua jenis ekspresi komunikasi). Konteks (memasukan semua jenis situasi dan hal yang berada diluar teks dan mempengaruhi pemakaian bahasa, situsai dimana teks itu diproduksi serta fungsi yang dimaksudkan). Wacana dimaknai sebagai konteks dan teks secara bersama. Titik perhatianya adalah analisis wacana menggambarkan teks dan konteks secara bersama-sama dalam proses komunikasi.

3.    Historis.
Menempatkan wacana dalam konteks sosial tertentu dan tidak dapat dimengerti tanpa menyertakan konteks.

4.    Kekuasaan.
Analisis wacana kritis mempertimbangkan elemen kekuasaan. Wacana dalam bentuk teks, percakapan atau apa pun tidak di pandang sebagai sesuatu yang alamiah wajar dan netral tetapi merupakan bentuk pertarungan kekuasaan. Konsep kekuasaan yang dimaksudkan adalah salah satu kunci hubungan anatara wacana dan masyarakat.

Analisa wacana kritikal menggunakan metodologi analisis struktur yaitu makro konteks masyarakat dan analisis struktur mikro yaitu konteks text / penyampaian iklan. 

II.3.      WACANA MEDIA
Dalam marxist klasik, istilah ‘media as means of production’, mengartikan kaum sosial kapitalis berada sebagai pemilik (kaum borjuis/rulling class)dalam tingkatan kelas. Media massa menjadi gambaran umum dari ide dan pandangan kelas borjuis yang menolak pemikiran-pemikiran alternative. Kelas yang memiliki barang produksi material (means of material production), dalam saat yang sama mengontrol barang produksi mental, dan siapa yang tidak atau kurang memiliki barang produksi mental menjadi sasaran kelas yang memiliki. (Marx & Engel: The German Ideology, cited in curran et al. 1982: 22). Kesimpulannya, media berfungsi menciptakan kesadaran palsu (false consciousness). Media ssebagai alat ekspresi kaum kapitalis, yang menolak variasi nilai dari media juga audiens. 
Dalam masyarakat modern, media melakukan fungsi ganda Secara ganda baik politis maupun ideologis.  Secara ideologis, media yang terus menerus berproduksi dalam proses kehidupan sosial sehingga untuk mengintegrasikan mereka ke dalam individu / kelompok ke dalam ideologi yang konsisten. Dengan kata lain, media mencoba untuk
bentuk dan mempengaruhi struktur ideologis dari masyarakat di mana mereka bertindak.  Secara Politik, media mencoba untuk memahami dunia bagi orang lain, yaitu konsumen dari produk media. Dengan demikian media cenderung menggeser pembaca / pemirsa dari kepatuhan terhadap posisi ideologis yang ditawarkan atau untuk lebih tegas dalam kesetiaan mereka untuk afiliasi ideologi. Media berproduksi baik secara ideologis maupun politis menghasilkan wacana secara khusus menjadi pemeran dalam reproduksi ideologi (Van Dijk, 1989: 203-4). Media mempengaruhi dan dipengaruhi oleh hubungan kekuasaan dalam sistem sosial. Oleh karena itu, media urutan wacana berguna dapat diperiksa sebagai domain dari kekuatan budaya dan hegemoni (Fairclough, 1995a: 67).  Hubungan kekuasaan yang mempengaruhi media membawa pada perubahan sistematis industri baru media dalam era konvergensi.
Era Konvergen menjadikan media semakin kokoh, memberikan keleluasaan kepada kelompok untuk menggalang persetujuan dari masyarakat mayoritas secara luas untuk tetap mempertahankan kesepakatan realita tentang pemahaman ideologi sesuai dengan realitasnya. Media menjadi representasi pertarungan ideologi. Media dalam fungsi sosial, teraplikasi nyata sebagai sebuah jaringan, merubah fungsi masyarakat sebagai kaum konsumen tujuan pasar industri menjadi penguasa dalam perjuangan mempertahankan gambaran hidup ideologi alami untuk melawan produk – produk ideologi baru yang dibangun oleh industri ekonomis. Seperti dungkapkan Henry Jenkis dalam Teori Konvergensi Media Th. 2006,  bahwa Konvergensi media terjadi dengan melihat bagaimana individu berinteraksi dengan orang lain pada tingkat sosial yang baru tanpa batas sehingga memproduksi suatu budaya masyarakat maupun industri.  Pola industri dengan konsumen terjadi dalam dua arah top – down yaitu keputusan industri untuk menjangkau konsumen / pasar sesuai dengan strateginya dan bottom-up oleh konsumen, yang memiliki kemapuan kreatifitias dan inovasi untuk mengolah celah-celah pada pergerakan teknologi untuk mengendalikan aliran media sesuai dengan keinginanya.




BAB III
METODE PENELITIAN

Produksi wacana pada media, berperan mempengaruhi  pengetahuan, keyakinan, nilai, identitas sosial dan hubungan sosial. Pencapaian diperoleh dari penggunaaan bahasa. Media juga berperan membangun kekuasaan bagi kelompok secara hegemoni yang berjuang mempertahankan ideologi tertentu. Dalam dua hal yang berbenturan ini, media berperan dalam fungsi pilitik menjadikan kelompok sebagai industri dalam pencapaian maksud ekonomis.
Penelitian diawali dengan meneliti isu yang dimasukan ke atau dikeluarkan dari wacana dengan analisis framing melihat pada komponen tema yang disajikan, sumber yang dikutip (nama dan atribut sosial), simbol yang dipergunakan (Verbal : kata, istilah, frase) (Van Dijk, 1988).
Penelitian naskah dilakukan secara paradigmatik Analisis Marxis dengan menemukan tanda-tanda dalam suatu naskah dan menafsirkannya sebagai jalan untuk mengetahui  ideologi apa yang ada di balik suatu naskah (Berger, 1982). 
Ideologi yang tergambar dalam wacana media bahasa dapat dianggap sebagai upaya yang signifikan untuk menyoroti sifat linguistik dan diskursif media kekuasaan (Fairclough,1995a: 2). Bagaimana partisipan melalui bahas ‘ istilahah’ membangun makna baik denotasi / konotasi dapat diamati dengan analisa Ethnographic of SPEAKING (Titscher, 2000:94-99) Menganalisis rekaman (lebih mudah bila dalam bentuk film) suatu interaksi komunikasi melalui komponen-komponen S (setting, scene), P (participants), E (ends, goal, purpose), A (act sequence), K (key, tone, manner), I (instrumentalities), norms (belief), Genre (textual categories).
Hasil dari penentuan makna melalui analisa di atas, dapat menjadi dasar mengamati perjuangan ideologi, dimungkinkan  dengan  kekuasaan media dalam tindakan komunikasi reaksi suatu kelompok dengan prilaku verbal dan nonverbal menyampaikan ide yang muncul dan ekspresi (pro kontra) terhadap produksi wacana  melalui interaksi dalam medan wacana baru memperjuangkan ideologi dengan melibatkatkan atribut - atribut sosial. Pengamatan dilakukan dengan semiotika sosial (Halliday, 1993).  Pendekatan metode mencapai tujuan adalah pendekatan deskriptif, artinya data struktur bahasa dalam wacana yang akan dianalisis dan hasil analisisnya berbentuk deskripsi atau fenomena tidak berupa angka-angka koefesian tentang hubungan antarvariabel. Oleh karena penelitian ini tidak terkait dengan variabel-variabel terukur. 
BAB IV
PEMBAHASAN

XL merupakan industri penyedia layanan jaringan telekomunikasi bagi seluler bergerak. Pada pertengahan bulan oktober 2011, XL meluncurkan program baru layanan jaringan internet dengan kelebihan - kelebihan jangkauan luas. Promosi layanan dilakukan melalui produksi iklan di media elektronik.  Dalam beberapa tahun terakhir XL dikenal berani dalam melakukan produksi iklan di media, dengan mengelola situasi tertentu yang hangat di masyarakat menjadi sandingannya dalam produksi iklan produk layanan. Mungkin saja dari fungsi politik iklan, dengan adanya situasi yang hangat di masyarakat, secara otomatis wacana iklan tersebut akan mengundang perhatian invidu / kelompok masyarakat. Selain itu, wacana iklan yang dibangun oleh XL  mungkin juga  bukan hanya untuk sebuah fungsi jual agar produk layanan dapat laku di pasar, namun fungsi kebudayaan yang tanpa disengaja dibiarkan terpupuk menjadi citra perusahaan sebagai  transeter yang  inovatif dan kreatif. 
Dalam produksi iklan kali ini, XL menjelaskan kegunaan dan fungsi produk layanan yang dihasilkan melalui konsep penggunaan konteks bahasa (Kata, Istilah, kalimat) yang digunakan dalam adegan iklan. Maksud sesungguhnya disembunyikan secara implisit, namun menggunakan konteks bahasa (Kata, Istilah, kalimat) yang eksplisit. konteks bahasa (Kata, Istilah, kalimat) yang eksplisit cenderung memiliki makna ganda baik denotasi maupun konotasi tergantung presentasi pemahaman dai invidu / kelompok masyarakat.   
Dalam iklan ini,  memilih Tukul Arwana dikohesikan dengan komponen pemeran sbagai artis, tukang bangunan dan pengusaha.  Tukul tampil dengan membawa istilah khas-nya “ NDESO” dalam beberapa seting dialog. Ini menjadi klimaks permasalahan.
Penggunaan istilah “Ndeso” dalam iklan menimbulkan persoalan ketersinggungan kelompok masyarakat tertentu berkaitan dengan pemahaman makna secara konotasi. Penggunaan istilah ‘NDESO’ dianggap berbenturan dengan ideologi realitas yang dimiliki kelompok tertentu tenbtang makna kata sesungguhnya dari ‘NDESO’.  
Secara struktural, istilah “Ndeso” diambil dari kata Desa. Pengertian Desa secara sosiologis oleh beberapa tokoh :
1.    Sutardjo Kartohadikusumo  : Desa adalah suatu kesatuan hukum dimana bertempat tinggal suatu masyarakat yang berkuasa mengadakan pemerintahan sendiri.
2.    C.S. Kansil  :  Desa adalah suatu wilayah yang ditempati oleh sejumlah penduduk sebagai kesatuan masyarakat termasuk di dalamnya kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai organisasi pemerntahan terendah langsung dibawah camat dan berhak menyelenggarakan rumah tangganya sendiri dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia
3.    Menurut Bintarto : Desa merupakan perwujudan atau kesatuan geografi, sosial, ekonomi, politik, dan kultural yang terdapat di situ(suatu daerah) dalam hubungannya dan pengaruhnya secara timbal-balik dengan daerah lain.
4.     Paul H. Landis : Desa adalah penduduknya kurang dari 2.500 jiwa. Dengan ciri ciri sebagai berikut :
 a. Mempunyai pergaulan hidup yang saling kenal mengenal antara ribuan jiwa.
 b. Ada pertalian perasaan yang sama tentang kesukaan terhadap kebiasaan.
c. Cara berusaha (ekonomi) adalah agraris yang paling umum yang sangat dipengaruhi alam seperti: iklim, keadaan, alam, kekayaan alam, sedangkan pekerjaan yang bukan agraris adalah bersifat sambilan.
d.  Sistem kehidupannya berkelompok
e. Termasuk kedalam masyarakat homogen dalam hal mata pencaharian, agama, adat-istiadat
f. Homogenitas Sosial
g. Hubungan primer
h. Kontrol sosial yang ketat
i. Gotong-royong
j. Ikatan sosial
k. Magis religius
Dapat disimpulkan, bahwa Desa adalah sebuah wilayah yang ditempati sejumlah penduduk yang daerahnya masih dipenuhi oleh pepohonan dan lahan kosong, dan kekerabatan diantara penduduknya sangat erat dimana penduduknya memiliki sistem pemerintahan sendiri.  Pengertian berhubungan wacana nilai-nilai budaya yang masih bersifat tradisional. Nilai budaya ini dihidupi sebagai sebuah ideologi oleh kelompok tertentu.  Ideologi ini diperhadapkan dengan wacana jaringan telekomunikasi internet pada realita melekat pada populasi kaum modern.
Iklan berdurasi 32 detik ini bercerita tentang seorang Tukul yang datang ke proyek pembangunan rumah miliknya akan bertemu 2 kali dengan Tukang Bangunan, 1 kali dengan tukang listrik, dan 1 kali dengan mandor bangunan.  Dalam 4 kali Scene terdapat 4 kali penggunaan istilah ‘NDESO’.  Scene pertama konteks bahasa (Kalimat, istilah) :
  1. Tukul : “ Kerja yang cepat dong, kayak internet saya, ga tahu internet kan ?,  NDESO !!!
  2. Tukul :  “ Masang yang bener, liat internet, ga tahu kan ??, NDESO !!!
  3. Tukul :   “ Mau kerja aman ? , liat internet !!!, ga tahu ya ???,  NDESO !!!
  4. Mandor :  “ Kembali kerja semua ……., yang punya rumah ini artis, mukamu NDESO !!!
Konteks “NDESO” dalam scene iklan di atas digunakan sebagai simbolik yang melekat pada kelompok yang tidak tahu mengenai internet. “NDESO” yang bersumber dari kata DESA dimaknai sebagai kondisi kaum tradisional yang tidak tahu tentang internet. Penggunaannya istilah “NDESO” dalam konteks kalimat di atas dipahami oleh kelompok tertentu bermakna konotasi kaum terbelakang, tidak mengikuti perkembangan kemajuan teknologi, dan dalam scene terakhir Tukul dibentak dengan menyinggung struktur wajah dengan istilah “mukamu NDESO”. Artinya ada pengucapan secara eksplisit bahwa wajah Tukul tidak mencerminkan profesi artis yang melekat dengan simbol ganteng / cantik, namun wajah Tukul yang tidak ganteng merupakan simbol dari  masyarakat desa. Secara denotasi dapat berarti bahwa Tukul memang berasal dari desa, namun dapat dimaknai secara konotasi bahwa orang desa memiliki wajah tidak ganteng seperti Tukul.
Dua hal simbolik yang ditemukan dalam scene di atas menunjukan adanya benturan terhadap ideologi, yakni realitas alami akar kata istilah “NDESO” yaitu DESA.  Makna konotasi yang dipahami oleh kelompok tertentu dianggap telah melecehkan ideologi DESA sesungguhnya. Simbolik mengenai keterbelakangan teknologi dan struktur wajah berdasarkan profesi / status sosial merupakan pelecehan terhadap nilai kebudayaanyang dimiliki oleh masyarakat DESA pada umumnya.  Secara psikologis, kelompok tertentu menjadi resah, karena merasa tersinggung akan presentasi dirinya, terutama bagi individu – individu yang memang berdiam atau berasal dari DESA.    Ketersinggungan kelompok ini disuarakan dalam kekuasaan media jejaring sosial. Kelompok yang menamakan diri : Pusat Relawan Pemberdayaan Desa Nusantara, berusaha untuk mengungkapkan kepada masa mayoritas ideologi sesungguhnya dari DESA tidak seperti yang ditampilkan oleh produksi wacana iklan XL.  Dari curahan perasaan melalui blogger, sampai gerakan di facebook page : “Hentikan Pelecehan Desa oleh XL dan Tukul”.  Berbagai reaksi terjadi dari masa mayoritas terhadap gerakan ini. Ada yang mendukung aksi ini namun ada juga yang meresponi dengan mengajukan opini berdasarkan pemahaman denotasi makna.
Media jejaring sosial merupakan hasil dari konvergensi media, dimana teknologi jaringan telekomunikasi memungkinkan media  dapat diakses dengan mudah. Jaringan media menghubungkan suatu invidu dengan individu lain atau satu kelompok dengan kelompok lain tanpa batas waktu dan jarak dalam satu atau lebih komunikasi lebih dari satu arah. Media konvergen ternyata mampu mengendalikan aliran masa untuk mendukung sebuah pemahaman tertentu. Kelompok masyarakat yang berjuang mempertahankan ideologi ‘NDESO’ dalam realitasnya, manyadari hal ini, dan menjadikan media konvergen sebagai senjata bagi perjuangannya. Begitu juga sebaliknya, XL menyadari bahwa kekuatan yang digalang oleh kelompok dalam kekuasaan media konvergen dapat membahayakan posisinya, maka XL pun memberikan tindakan reaktif dengan menggunkana aksi feedback menjelaskan maksud dari wacana iklan yang diproduksi ( “……. Dapat kami jelaskan, melalui iklan tersebut justru kami ingin mengajak semua kalangan masyarakat, termasuk kalangan menengah ke bawah untuk tidak ragu lagi memanfaatkan layanan internet untuk mendukung berbagai aktivitas serta meningkatkan produktivitas. Atas pertimbangan tersebut kami memakai karakter komedian Thukul Arwana dengan penampilan dan ucapan khas “ndeso” yang sering dia lontarkan di acara televisi yang dipandunya. Karakter Thukul juga kami pakai atas pertimbangan sebagai seseorang yang meraih kesuksesan sebagai hasil dari kerja keras dan keinginan kuat untuk maju dan belajar.  Karena itu, selain untuk tujuan marketing dan menghibur, kami berharap iklan ini juga sekaligus mampu menginspirasi masyarakat ……..”). Apa yang disampaikan XL merupakan landasan pemikiran industri yang berusaha membangun ideologi baru berdasarkan makna denotasi istilah yang digunakan dalam iklan.  Namun penjelasan XL ini  dikalah dengan desakan kelompok dan kekuatan masa dalam media konvergen yang berhasil mendesak KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) untuk memberhentikan penayangan iklan.


 BAB V
KESIMPULAN

Produksi wacana iklan dari layanan jaringan telekomunikasi XL, menghadirkan kontra ideologi dalam konteks bahasa ‘istilah’ “NDESO”.  Efek komponen dalam iklan (pelaku, adegan, seting) tidak mampu untuk secara eksplisit mengungkapakan maksud dari iklan. Justru secara implisit konteks iklan lebih dipahami dari makna konotasi sebagai pelecehan terhadap ideologi / nilai budaya identitas sosial tertentu. Presentasi diri dari kelompok tersebut secara psikologis dirasakan mengalami pelecehan. Wacana ini menghadirkan konflik berupa perjuangan ideologi, yang  terjadi dalam bentuk komunikasi verbal pada wadah media jejaring sosial. Komunikasi dalam jejaring sosial berupa penyampaian deskripsi ideologi realita dari istilah yang digunakan dalam produksi iklan mampu untuk menjaring dukungan berupa kekuasaan masa yang mendesak KPI memberhentikan XL tersebut.  Hal tersebut turut membuktikan kekuatan media jejaring sosial sangat berperan aktif  sebagai senjata dalam sebuah pertarungan ideologi.  Individu / kelompok yang mampu secara komunikasi verbal mempengaruhi masa dalam jejaring media sosial, akan memenangkan pertarungan tersebut.


DAFTAR PUSTAKA
Abrams, D. and Hogg, M.A. (eds) (1990) Social Identity Theory: Constructive and Critical Advances.  Hemel Hempstead: Harvester Wheatsheaf.

Anastasio, P., Bachman, B., Gaertner, S. and Dovidio, J. (1997) ‘Categorization, Recategorizationand Common Group Identity’, in R. Spears, J.P. Oakes, N. Ellemers, and S.A.

Austin and S. Worchel (eds) The Social Psychology of Intergroup Relations, Monteray, CA:
Brooks/Cole.

Berger  (1982) Marxist Analysis. cited in curran et al

Fairclough, N. (1995a) Media Discourse. London: Arnold.

Hogg, M.A. (1992) The Social Psychology of Group Cohesiveness: From Attraction to Social
Identity. Hemel Hempstead: Harvester Wheatsheaf.

Hogg, M.A. and Abrams, D. (1988) Social Identification: A Social Psychology of Intergroup
Relations and Group Processes. London: Routledge.

Marx & Engel: The German Ideology,  Marxist Media Theory. cited in curran et al

Oakes, P.J., Haslam, S.A. and Turner, J.C. (1993) Stereotyping and Social Reality. Oxford:
Blackwell.

Stangor, C. and Lange, J. (1993) Cognitive Representations of Social Groups: Advances in
Conceptualizing Stereotypes and Stereotyping, in M.P. Zanna (ed.)  Advances in Experimental Psychology, Vol. 26, pp. 357–416. San Diego, CA: Academic Press.

Tajfel, H. (ed.) (1978) Differentiation Between Social Groups: Studies in the Social Psychology
of Intergroup Relations. London: Academic Press.

Tajfel, H. and Turner, J.C. (1979) ‘An Integrative Theory of Intergroup Conflict’, in W.G.

Titscher : Ethnographic of SPEAKING 2000. cited in curran et al

Turner, J.C. and Giles, H. (eds) (1981) Intergroup Behaviour. Oxford: Blackwell.

Turner, J.C., Hogg, M.A., Oakes, P.J., Reicher, S.D. and Whetherel, M.S. (1987) Rediscovering
the Social Group: A Self-Categorization Theory. Oxford: Blackwell

Van Dijk, T.A. (1998) Ideology. London: Sage.

Woodfin, Rupert & Oscar Zarate (2008). Marxisme untuk Pemula. Yogyakarta: Resist Book

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KAJIAN UU NO 14 Th.2008

<!--[if gte mso 9]> Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4 KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK UNDANG UNDANG NO. 14 Th. 2008 Gema Demokrasi Tahun 1998 mungkin menjadi salah satu tombak penggerak Keterbukaan Informasi dan Komunikasi kehidupan bangsa Indonesia dalam pelaksanaan Penyelenggaraan Negara. Hal ini mendorong terbitnya UU No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Sedikit keleg...

YESUS & PEREMPUAN BERZINAH

Pernah kah mengalami : " bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat." (rasul Paulus) Ada banyak perkara dalam hidup ini yang membuat kita susah untuk berbuat baik untuk menjadi benar. Secara tidak sadar jiwa, hati dan pikiran kita dituntut, kemudian jika tidak mencapainya, kita dituduh, kita dikejar oleh perasaan bersalah dan pikiran menghakimi diri sendiri. Kita tidak diterima oleh diri kita sendri..... dan orang lain menolak kita ! Pada saat hal ini berlangsung teru menerus, kita secara tidak langsung bisa membunuh diri kita sendiri. Ada sebuah kisah tentang tentang Seorang Wanita yang tertangkap basah Melakukan perzinahan dan dihakimi Masa dan Ada YESUS di situ : " tetapi Yesus pergi ke bukit Zaitun. Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka. Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kep...

Bagi ku, ANUGRAH KESELAMATAN ITU : SEPERTI PELACUR yang Di jadikan Istri oleh Seorang Pangeran Sejagad

PASKAH .... bukan sekedar momen tapi kesempatan untuk mengingat terus betapa ENGKAU, YESUS adalah satu satu nya TUHAN dalam hidup ku, mengingat bahwa aku diciptakan, aku orang berdosa yang ditebus oleh TUHAN sendiri dalam manusia YESUS, dibenarkan menjadi anak anak NYA, untuk hidup dalam rencanaNYA memuliakan NYA seumur hidup ... dan bahkan sampai pada kekekalan............ Hmmmmmm ............. tersentak sejenak mendegar 2 kata disebut hari ini : PELACUR.... & ANUGRAH Seorang Pelacur yang jiji dengan diri nya sendiri..... yang tak punya kekuatan lagi untuk melihat wajahnya sendiri di depan cermin....... Cantik mempesona wajahnya, polesan warna warni di wajah, pakaian sopan hanya kepura puraan yang menutup semua kesundalannya......... Mau keluar dari semuanya namun tak mampu ......... Tak punya harapan untuk memperoleh hidup yang layak sebagai manusia......... Tiba tiba datang seorang Pangeran Putra Mahkota yang meminang dia untuk menikah ....... saking cinta nya...